Monday, 19 October 2015
TUGAS TRANSLATION
ゴーヤチャンプル
(Goya
Canploo)
材料 (4人分)
Bahan-bahan ( porsi untuk 4 orang )
- ゴーヤ 2本
Labu pahit/Pare 2
buah
- 牛肉 200gr
Daging sapi
- 木綿豆腐 1丁
Toufu 1
kotak/ding
- 卵 2個
Telur 2 butir
- 醤油 大さじ2
Kecap 2
sendok makan
- 胡麻油 大さじ1
Minyak wijen 1 sendok makan
- 水 500 ml
Air 500 ml
- 塩 少々
Garam secukupnya
1.ゴーヤを洗い、両端を落として縦半分に切る。
Cuci pare, potong memanjang
menjadi 2 bagian dan buang ujungnya.
2.スプーンで中綿と種をしっかり取り除き塩をすり込む。
Bersihkan bijinya dengan
sendok, dan taburi garam.
3.木綿豆腐を8等分にして水切りしておく。
Cuci dan potong tofu menjadi
8 bagian yang sama.
4.牛肉に醤油をかけて漬けておく。
Rendam daging sapi dengan kecap secukupnya.
5.ゴーヤの塩を洗い流し、細切りにする。
Bilas pare dengan air, lalu potong tipis.
6.熱したフライパンに胡麻油をしいてゴーヤを入れ、少ししなりしたら水を加えて蓋をして蒸し焼きにする。
Panaskan minyak wijen dalam penggorengan, masukkan
pare dan kukus dengan air setelah itu ditutup.
7.牛肉を好みの大きさに切る。
Potong daging sapi dengan ukuran yang diinginkan.
8.ゴーヤを寄せて隙間を作り、牛肉を入れて上から醤油をかける。
Masukkan kecap agar dapat meresap ke daging, dan
camprkan dengan pare.
9.牛肉の赤みが消えるまで箸でほぐしながらしっかり火を通す。
Aduk dengan sumpit sampai warna merah pada daging
menghilang, lalu kecilkan api.
10.木綿豆腐を手で軽く潰しながら入れる。
Masukkan tofu perlahan dengan tangan agar tidak
hancur.
11.溶き卵を流し入れ、蓋をして火を通す。
Tuangkan telur kocok, lalu kecilkan api dan tutup
kembali tunggu sampai matang.
12.バランスよく混ぜたら完成。
Setelah selesai, campur hingga rata.
Wednesday, 23 October 2013
Tuesday, 22 October 2013
HANAGASA
Origins of the Hanagasa Festival
The Hanagasa Festival has its
origins in the 'Zao Summer Festival' which started to promote tourism in Zao,
Yamagata.
The 'Hanagasa Dance Song Parade', which was a part of that festival, separated in 1965 as the 'Yamagata Hanagata Festival'.
Regarding the 'Hanagasa Odori' dance, they say that in the early years, red dyed paper was tied to bamboo hats to create a flower hat which people waved and twirled to enliven their mood.
The 'Hanagasa Dance Song Parade', which was a part of that festival, separated in 1965 as the 'Yamagata Hanagata Festival'.
Regarding the 'Hanagasa Odori' dance, they say that in the early years, red dyed paper was tied to bamboo hats to create a flower hat which people waved and twirled to enliven their mood.
Makna Tanggal 14 Setiap Bulan
Ternyata tanggal 14 bukan hanya
diperingati sebagai hari kasih sayang atau Valentine di bulan Februari loh.
Ternyata setiap tanggal 14 pada setiap bulan, ada perayaan-perayaan lain juga
loh. Tradisi ini ternyata muncul dari budaya Korea dan sudah menyebar ke
berbagai belahan dunia, terutama pada kaum remaja.
- 14 Januari
- Diary Day
Pada awal tahun, sepasang kekasih akan saling memberikan diary atau agenda tahunan. Buku ini akan digunakan untuk mencatat setiap kejadian-kejadian yang mereka alami selama setahun penuh loh. Kalau ternyata hubungan mereka selalu cocok, buku diary akan dilanjutkan ke tahun berikutnya. Dengan demikian mereka akan selalu memiliki kenangan peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami.
Tenjin Matsuri
Tenjinmatsuri (天神祭) adalah festival tahunan (matsuri) yang diselenggarakan di kota Osaka oleh kuil Osaka Temmangu pada tanggal 24 Juli dan 25 Juli. Pembukaan festival (yomiya)
diselenggarakan tanggal 24 Juli, sedangkan puncak perayaan berupa prosesi darat
(riku togyo) dan prosesi perahu (funa togyo) dilangsungkan pada
tanggal 25 Juli.
Sungai Ōkawa yang berada di tengah kota Osaka dipenuhi lebih
dari 100 perahu yang melakukan prosesi dan dimeriahkan dengan pesta kembang api. Perahu yang berisi pengikut kuil Osaka Temmangu
datang dari arah berlawanan dan berpapasan dengan perahu yang membawa Gohōren.
Para sponsor dan undangan lainnya juga dapat naik di atas perahu yang tidak
termasuk dalam kelompok prosesi. Penonton yang berada di tepi sungai juga bisa
menyaksikan pesta kembang api dan pertunjukan Kagura, Danjiribayashi, Noh dan Rakugo yang diadakan di atas perahu.
Perayaan Tenjinmatsuri juga dilangsungkan berbagai
tempat di Jepang oleh kuil Shintō yang menyandang sebutan kuil Tenjin, tapi festival Tenjinmatsuri di Osaka
merupakan festival yang paling terkenal. Tenjinmatsuri adalah salah satu dari
tiga festival terbesar di Jepang bersama-sama dengan Kanda Matsuri di (Tokyo) dan Gion Matsuri (Kyoto).
Friday, 18 October 2013
Pengertian Cosplay
Apa Sih COSPLAY Itu?
Akhir-akhir ini muncul fenomena yang
banyak digandrungi oleh anak-anak muda, terutama mereka yang menyukai
produk-produk budaya dari negeri matahari terbit, dan ternyata tidak hanya di
Indonesia tetapi fenomena ini juga sudah merebak ke seluruh penjuru dunia. Fenomena apa itu? Fenomena yang dimaksud adalah Cosplay.
Mungkin
di antara kita, ada yang sudah pernah ber-cosplay, atau bahkan mungkin ada yang
menyukainya sehingga setiap ada acara dimana bisa ber-cosplay, selalu hadir di
sana untuk ber-cosplay. Tapi apakah kita pernah berpikir sejenak apa sih
Cosplay itu?
Alat Musik Tradisional Jepang
Alat Musik Tradisional Jepang
1. Sejarah KOTO
KOTO
adalah alat musik yang menyerupai kecapi di Indonesia, disebutkan masuk ke
Jepang sejak abad ke-7. Di masa itu, KOTO dimainkan sebagai salah satu bagian
musik Istana. Formasi KOTO yang dimainkan sebagai alat musik tunggal, tanpa
iringan alat musik lain, menjadi populer di masyarakat sejak abad 17. Pada abad
17 lahir maestro KOTO dan pencipta “HACHIDAN”(delapan babak)”dan “MIDARE” (lagu
berirama lepas) YATSUHASHI KENGYO. Ia menciptakan pakem dasar untuk SOKYOKU
(lagu-lagu KOTO).
Pada
dasarnya musik tradisional Jepang memiliki 5 tangga nada, kurang 2 tangga nada
dibandingkan dengan musik barat yang mempunyai 7 tangga nada “do re mi fa so la
si”. Namun, musik Jepang tradisional juga menyerap beragam tangga nada lainnya
sehingga menghasilkan irama yang sangat berbelit. Dasar-dasar musik istana atau
musik aristokrat diciptakan dengan menggunakan nada “do re mi so la” atau “re
mi so la si”. Cara ini disebut “YO-ONKAI” yang memiliki nada yang relatif
riang. Sedangkan YATSUHASHI KENGYO membuat “HIRAJOSHI” atau nada datar yang di
dalam tangga nadanya menggunakan “mi fa la si do” yang di antaranya ada
semitone sebagai nada dasar. Nada ini disebut “IN-ONKAI” yang lebih sendu dan
menggugah emosi sehingga masyarakat Jepang di jaman itu kerap terharu
mendengarkan nada ini. Setelah YATSUHASHI KENGYO memperkenalkan “HIRAJOSHI”,
SOKYOKU sangat berkembang dan dicintai sehingga diakui sebagai musik rakyat
Jepang.
YATSUHASHI
KENGYO bisa disebut sebagai pencipta SOKYOKU dan meninggal dunia pada tahun
1685. Jika kita menengok ke negara barat, Bach, yang dikenal sebagai pencipta
musik barat lahir pada tahun saat YATSUHASHI KENGYO meninggal.













